Ruang Dosen PDPT-MPKSENI UI, Akhir Agustus 2009. 14.00 WIB.
“Sikap adalah kualitas awal yang tampak pada seseorang yg sukses. Jika ia bersikap dan selalu berpikiran positif, serta menyukai tantangan dan siatuasi yg rumit, maka itu berarti ia telah meraih setengah dari kesuksesannya.” –Lowell Peacook–
“Pada setiap orang hanya terdapat sedikit perbedaan, namun yg sedikit itu bias menjadi sangat besar. Perbedaan yang sedikit itu adalah sikap, sedangkan perbedaan tersebut menjadi besar ketika sikap itu positif atau negative.” –Clement Stone–
Sikap Anda menentukan tingkat keberhasilan Anda
Seseorang –yg begitu sangat kukagumi kepiawai dan juga kegigihannya- pernah mengatakan kepadaku bahwa keberhasilan kita tergantung dari sikap kita sendiri. Lalu lanjutnya, perbedaan antara orang sukses dengan orang yang tidak sukses dalam hidupnya adalah : kehidupan orang sukses senantiasa diatur dan dibayangi dengan sikap positif, yakni pikiran2 tentang saat2 terbaiknya, rasa optimis yang tinggi serta pengalaman2 terbaiknya. Sementara kehidupan orang yang tidak sukses, dia senantiasa diatur dan dibayangi oleh rasa ragu serta kegagalan2nya di masa lampau, sifat pesimis serta pegalaman2 buruknya di masa lampau.
Banyak orang yang kadang mengatakan bahwa orang lainlah yang menjadikannya seperti yang sekarang ini. Bahkan kita, baik langsung ataupun secara tidak langsung bahwa keadaanlah yang mendikte kehidupan kita. Dan kadang kita akui bahwa sulit bagi kita mendikte perasaan2 yang demikian itu, kita terbiasa menyalahkan keadaan. Tapai pada kenyataannya, kita sendirilah yang harus menentukan cara kita memandang kehidupan ini. Saya teringat sebuah buku yang menceritakan tentang kesaksian seseorang yang lolos dari kekejian Nazi, Victor Frankl, dia mengatakan “ Kemerdekaan terakhir yang dimiliki seseorang ialah saat ia menentukan suatu sikap pada saat dihadapkan pada keadaan dan situasi tertentu.”
Hal ini senada dengan apa yang pernah dikatakan Maltbie D. Babcock, “Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi dan amat disayangkan adalah pendapat bahwa keberhasilan hanya bisa diperoleh berkat bantuan orang2 jenius, keajaiban atau oleh hal2 lain yg tidak ada pada diri kita sendiri.” Padahal, semua dari kita mampu meraih kesuksesan itu, hanya saja, tidak semua mau meraihnya, karena bias jadi kemampuan baru akan datang setelah kuatnya kemauan. Kita semua bias meraih kesuksesan dengan apa yang kita miliki, dengan sesuatu yang terdapat dalam diri kita. Dari itu, cara berpikir adalah dasar utama yang harus kita perbaiki untuk menempuh perjalanan meraih kesuksesan sebelum faktor2 lainnya.
Sikap kita sangat menentukan banyak hal dalam hidup kita :
1. Sikap kita terhadap kehidupanan menentukan sikap itu sendiri terhadap kita.
2. Sikap kita terhadap orang lain akan menentukan sikap mereka terhadap kita.
3. Sikap kita pada awala sebuah tugas/ pekerjaan akan menentukan sukses atau tidaknya pekerjaan tersebut.
4. Makin tinggi kedudukan orang yang Anda temui dalam suatu organisasi yang bermutu, makin baik pula sikapnya.
Tak heran memang, jika dikatakan kitalah yang juga menciptakan lingkungan kita, baik dari segi mental, emosional, fisik maupun spiritual, dengan sikap yang kita bina sendiri.
Namun begitu, dengan hanya bersikap positif tidak berarti kita pasti meraih sukses. Sikap ini memang akan memperbaiki kehidupan kita sehari-hari, namun hal ini tidak menjamin bahwa kita pasti mencapai semua yang kita kehendaki. Akan tetapi sebaliknya, jjika kita bersikap negative, sudah barang tentu kita tidak akan berhasil. Yang jelas, -seingat dan sepengetahuan saya- belum pernah saya melihat atau menemui ada seseorang yang bersikap buruk mampu mencapai kesuksesan yang langgeng.
Dampak negatif dari sikap negatif
Kita menjadi seperti sekarang ini karena kita selalu dikuasai oleh pikiran2 yang tentu selama ini ada dan berasarang dalam pikiran kita. Pikiran negatif muncul dalam diri seorang negatif yang terikat oleh situasi/ keadaan negatif yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Seseorang yang berpikiran negatif tak ubahnya seperti seseorang yang menelan telur. Ia merasa takut bergerak kemana-mana karena khawatir telur akan pecah, sementara ia juga takut untuk tetap duduk diam karena khawatir telur tersebut malah akan menetas.
Paling tidak, ada enam hal yang biasa ditimbulkan oleh pikiran yang negative yang dibiarkan berlarut-larut :
1. Pikiran negatif menimbulkan kebimbangan saat hendak membuat suatu keputusan penting.
Bila seseorang selalu menganggap bahwa apa yang ditemukan dalam hidupnya buruk, maka ini akan menjadi kebiasaan yang sangat sukar dihilangkan. Jadi ketika suatu saat ada kesempatan baik muncul, tentu orang semacam ini tak akan dapat melihat apalagi mengambilnya. Karena segala sesuatu yang dilihatnya selalu dianggapnya sebagai kesulitan dan juga rintangan yang tak ingin ditemuinya.
Pertanyaanya, bisakah kita membedakan antara peluang dan rintangan? Sebenarnya, perbedaanya utamanya terdapat pada sikap awal seseorang ketika menghadapinya. Abraham Lincoln-yang disebut2 sebagai presiden terbesar dalam sejarah Amerika- pernah mengatakan, “Kesuksesan bias kita peroleh jika saja kita mau, mau melalui rintangan demi rintangan tanpa mengendurkan semangat kita.”
Adalah benar memang, sebelum memutuskan sesuatu kita harus pula mempertimbangkan baik-buruknya. Namun demikian, ada yang lebih penting bahwa kita harus tetap berpikiran positif, karena ini akan mempermudah kita saat akan membuat keputusan penting.
2. Pikiran negatif sangat dapat menular
Dalam perbendaharaan peribahasa asing ada disebutkan “Birds of a feather flock together” (Burung yang sama bulunya, selalu bergerombol bersama). Sementara dalam peribaha kita juga dikatakan, “Rasan air ke air, rasan minyak ke minyak”. Saya sangat membenarkan peribahasa ini, bahkan kita lebih bias melihat hal yang lebih menyolok itu terdapat pada manusia dibandingkan pada hewan. Pada hewan, mereka bergerombol bersama karena memang mereka dari spesies yang sama, tapi pada manusia berasal dari asal yang berbeda tapi akan mudah berubahdan menjadi sama setelah seringnya berhubungan.
Saya pernah melihat pasangan suami-istri yang lama-kelamaan perilaku dan tindak tanduknya menjadi serupa. Bahkan kadang wajahnyapun menjadi terlihat begitu mirip, inilah hasil dari intensitas interaksi manusia dengan manusia lainya. Tentu menjadi sangat disayangkan bahwa yang kemudian yang ditularkan itu adalah sikap negatif tadi. Berkumpul dengan orang yang demikian sama halnya dengan bila kita terkena radiasi. Bila dosisnya sedikit dan dalam waktu yang relative singkat, kita masih akan selamat. Tapi bila dosisnya banyak dan berlangsung dalam waktu yang lama, itu akan membunuh kita.
3. Pikiran negatif lebih sering membuat kita bertindak membabi buta.
Sering kita melihat orang2 yang melakukan sesuatu secara berlebihan, sikap orang2 yang seperti ini seperti menganut Hukum Murphy, “Segala sesuatu tidak semudah yang Anda lihat; berlangsung lebih lama dari yang Anda duga; dan jika sesuatu itu ada kemungkinan untuk gagal, hal itu akan benar2 terjadi malah justeru pada saat yang terburuk.”
Saya sarankan, sebaiknya kita lebih memilih semboyan hidupnya Maxwell, “Segala sesuatu tidaklah sesulit yang kita lihat; lebih menguntungkan daripada yang Anda duga; dan jika ada kemungkinan berhasil, maka itu akan terjadi dan pada saat yang terbaik.”
Aspek terburuk dari pikiran negatif dari mereka yang menganut Hukum Murphy ialah bahwa hal itu membuat mereka tidak dapat melihat sesuatu dalam pandangan yang proporsional.
4. Pikiran negatif sangat mendukung kita untuk cepat berputus asa.
Seseorang pernah berkata seperti ini pada saya, “Bila kita tidak punya harapan di masa mendatang, maka tak mungkin ada kekuatan pada saat sekarang.” Ini berhubungan dengan sikap negatif yang sangat bisa membuat kita untuk putus asa. Pikiran2 negatif dapat merusak keyakinan juga memutuskan harapan. Ini memang berlangsung perlahan-lahan, namun percayalah, ini akan berlangsung terus-menerus dan lama-kelamaan akan menghapus semangat kita yang pada akhirnya akan menghentikan kita melanjutkan perjalanan menggapai tujuan kita.
5. Pikiran negatif mempersempit ruang gerak dan dan batas kemampuan kita
Menurut saya, orang tidaka akan selamanya mampu melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Orang2 yang berpikiran negatif selalumenganggap bahwa hal2 yang terburuk tidak hanya berasal dari dunia di sekitar mereka tapi juga dalam internal diri mereka. Mereka senantiasa dibayangi oleh bisikan2 “Pasti gagal, saya belum pernah melakukannya, tanpa …. Saya tidak akan berhasil, saya tak sanggup melakukannya, saya belum siap, itu bukan yang saya inginkan,” dan sebagainya, dan sebagainya.
Saya teringat kisah tentang Nabi Sulaiman, seorang pemimpin yang dikenal paling arif di dunia, bahkan tidak hanya sebatas pada manusia. Beliau pernah berujar, “Apa yang ada dalam benaknya, seseorang itulah dia.” Dengan kata lain, orang akan menjadi sesuatu yang ia pikirkan dan yakini. Ketika seseorang berpikiran negatif, tentu ia tidak akan mempunyai banyak harapan, dan saat itulah ia telah menutup pintu kemampuannya sendiri. Itu artinya, dia sendiri menjadi musuh besar bagi potensi yang sebenarnya ia miliki.
6. Pikiran negatif membuat kita sulit menikmati hidup.
Orang yang berpikiran negatif akan selalu merana dalam hidupnya. Mereka lalai saat ini, dan akan mendapat kekecewaan di masa yang akan datang. Mereka banyak menjadi ‘pengikut’ Hukum Chisolm, “Setiap saat se galanya berubah menjadi lebih baik, hanya saja kita tidak (mampu) menyadarinya.”
Saya pernah ikut sebuah seminar tentang potensi diri, hamper semua dari kami yang hadir mengatakan gelas yang diisi minuman dikatakan setengah kosong, bukanya setengah penuh. Kadang kita selalu memperkirakan-dan akhirnya memang memperoleh-yang terburuk dalam hidup kita. Ini mengingatkan saya pada cerita tentang seorang pendaki gunung pemula dan seorang penunjukjalan yang telah berpengalaman yang sedang melakukan pendakian puncak gunung yang diselimuti salju. Pagi-pagi sekali pendaki gunung ini tiba2 terjaga karena suara kerasnya gemertak yang menakutkan, bahkan ia menyangka bahwa hari kiamat mungkin telah tiba. Sementara si pemandu malah dengan santainya mengatakan, “Yang Engkau dengar itu hanya suara gemertak es akibat terkena sinar matahari. Itu bukanya pertanda kiamat tapi pertanda hari yang baru.”
Kalau dalam hidup ini kita menginginkan dapat meraih yang terbaik, maka manfaatkan sebaik-baiknya potensi yang ada pada diri kita, nikmatilah rangkaian perjalanan hidup ini, dan yang terpenting, kita harus senantiasa berpikiran positif.
“Sikap adalah kualitas awal yang tampak pada seseorang yg sukses. Jika ia bersikap dan selalu berpikiran positif, serta menyukai tantangan dan siatuasi yg rumit, maka itu berarti ia telah meraih setengah dari kesuksesannya.” –Lowell Peacook–
“Pada setiap orang hanya terdapat sedikit perbedaan, namun yg sedikit itu bias menjadi sangat besar. Perbedaan yang sedikit itu adalah sikap, sedangkan perbedaan tersebut menjadi besar ketika sikap itu positif atau negative.” –Clement Stone–
Sikap Anda menentukan tingkat keberhasilan Anda
Seseorang –yg begitu sangat kukagumi kepiawai dan juga kegigihannya- pernah mengatakan kepadaku bahwa keberhasilan kita tergantung dari sikap kita sendiri. Lalu lanjutnya, perbedaan antara orang sukses dengan orang yang tidak sukses dalam hidupnya adalah : kehidupan orang sukses senantiasa diatur dan dibayangi dengan sikap positif, yakni pikiran2 tentang saat2 terbaiknya, rasa optimis yang tinggi serta pengalaman2 terbaiknya. Sementara kehidupan orang yang tidak sukses, dia senantiasa diatur dan dibayangi oleh rasa ragu serta kegagalan2nya di masa lampau, sifat pesimis serta pegalaman2 buruknya di masa lampau.
Banyak orang yang kadang mengatakan bahwa orang lainlah yang menjadikannya seperti yang sekarang ini. Bahkan kita, baik langsung ataupun secara tidak langsung bahwa keadaanlah yang mendikte kehidupan kita. Dan kadang kita akui bahwa sulit bagi kita mendikte perasaan2 yang demikian itu, kita terbiasa menyalahkan keadaan. Tapai pada kenyataannya, kita sendirilah yang harus menentukan cara kita memandang kehidupan ini. Saya teringat sebuah buku yang menceritakan tentang kesaksian seseorang yang lolos dari kekejian Nazi, Victor Frankl, dia mengatakan “ Kemerdekaan terakhir yang dimiliki seseorang ialah saat ia menentukan suatu sikap pada saat dihadapkan pada keadaan dan situasi tertentu.”
Hal ini senada dengan apa yang pernah dikatakan Maltbie D. Babcock, “Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi dan amat disayangkan adalah pendapat bahwa keberhasilan hanya bisa diperoleh berkat bantuan orang2 jenius, keajaiban atau oleh hal2 lain yg tidak ada pada diri kita sendiri.” Padahal, semua dari kita mampu meraih kesuksesan itu, hanya saja, tidak semua mau meraihnya, karena bias jadi kemampuan baru akan datang setelah kuatnya kemauan. Kita semua bias meraih kesuksesan dengan apa yang kita miliki, dengan sesuatu yang terdapat dalam diri kita. Dari itu, cara berpikir adalah dasar utama yang harus kita perbaiki untuk menempuh perjalanan meraih kesuksesan sebelum faktor2 lainnya.
Sikap kita sangat menentukan banyak hal dalam hidup kita :
1. Sikap kita terhadap kehidupanan menentukan sikap itu sendiri terhadap kita.
2. Sikap kita terhadap orang lain akan menentukan sikap mereka terhadap kita.
3. Sikap kita pada awala sebuah tugas/ pekerjaan akan menentukan sukses atau tidaknya pekerjaan tersebut.
4. Makin tinggi kedudukan orang yang Anda temui dalam suatu organisasi yang bermutu, makin baik pula sikapnya.
Tak heran memang, jika dikatakan kitalah yang juga menciptakan lingkungan kita, baik dari segi mental, emosional, fisik maupun spiritual, dengan sikap yang kita bina sendiri.
Namun begitu, dengan hanya bersikap positif tidak berarti kita pasti meraih sukses. Sikap ini memang akan memperbaiki kehidupan kita sehari-hari, namun hal ini tidak menjamin bahwa kita pasti mencapai semua yang kita kehendaki. Akan tetapi sebaliknya, jjika kita bersikap negative, sudah barang tentu kita tidak akan berhasil. Yang jelas, -seingat dan sepengetahuan saya- belum pernah saya melihat atau menemui ada seseorang yang bersikap buruk mampu mencapai kesuksesan yang langgeng.
Dampak negatif dari sikap negatif
Kita menjadi seperti sekarang ini karena kita selalu dikuasai oleh pikiran2 yang tentu selama ini ada dan berasarang dalam pikiran kita. Pikiran negatif muncul dalam diri seorang negatif yang terikat oleh situasi/ keadaan negatif yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Seseorang yang berpikiran negatif tak ubahnya seperti seseorang yang menelan telur. Ia merasa takut bergerak kemana-mana karena khawatir telur akan pecah, sementara ia juga takut untuk tetap duduk diam karena khawatir telur tersebut malah akan menetas.
Paling tidak, ada enam hal yang biasa ditimbulkan oleh pikiran yang negative yang dibiarkan berlarut-larut :
1. Pikiran negatif menimbulkan kebimbangan saat hendak membuat suatu keputusan penting.
Bila seseorang selalu menganggap bahwa apa yang ditemukan dalam hidupnya buruk, maka ini akan menjadi kebiasaan yang sangat sukar dihilangkan. Jadi ketika suatu saat ada kesempatan baik muncul, tentu orang semacam ini tak akan dapat melihat apalagi mengambilnya. Karena segala sesuatu yang dilihatnya selalu dianggapnya sebagai kesulitan dan juga rintangan yang tak ingin ditemuinya.
Pertanyaanya, bisakah kita membedakan antara peluang dan rintangan? Sebenarnya, perbedaanya utamanya terdapat pada sikap awal seseorang ketika menghadapinya. Abraham Lincoln-yang disebut2 sebagai presiden terbesar dalam sejarah Amerika- pernah mengatakan, “Kesuksesan bias kita peroleh jika saja kita mau, mau melalui rintangan demi rintangan tanpa mengendurkan semangat kita.”
Adalah benar memang, sebelum memutuskan sesuatu kita harus pula mempertimbangkan baik-buruknya. Namun demikian, ada yang lebih penting bahwa kita harus tetap berpikiran positif, karena ini akan mempermudah kita saat akan membuat keputusan penting.
2. Pikiran negatif sangat dapat menular
Dalam perbendaharaan peribahasa asing ada disebutkan “Birds of a feather flock together” (Burung yang sama bulunya, selalu bergerombol bersama). Sementara dalam peribaha kita juga dikatakan, “Rasan air ke air, rasan minyak ke minyak”. Saya sangat membenarkan peribahasa ini, bahkan kita lebih bias melihat hal yang lebih menyolok itu terdapat pada manusia dibandingkan pada hewan. Pada hewan, mereka bergerombol bersama karena memang mereka dari spesies yang sama, tapi pada manusia berasal dari asal yang berbeda tapi akan mudah berubahdan menjadi sama setelah seringnya berhubungan.
Saya pernah melihat pasangan suami-istri yang lama-kelamaan perilaku dan tindak tanduknya menjadi serupa. Bahkan kadang wajahnyapun menjadi terlihat begitu mirip, inilah hasil dari intensitas interaksi manusia dengan manusia lainya. Tentu menjadi sangat disayangkan bahwa yang kemudian yang ditularkan itu adalah sikap negatif tadi. Berkumpul dengan orang yang demikian sama halnya dengan bila kita terkena radiasi. Bila dosisnya sedikit dan dalam waktu yang relative singkat, kita masih akan selamat. Tapi bila dosisnya banyak dan berlangsung dalam waktu yang lama, itu akan membunuh kita.
3. Pikiran negatif lebih sering membuat kita bertindak membabi buta.
Sering kita melihat orang2 yang melakukan sesuatu secara berlebihan, sikap orang2 yang seperti ini seperti menganut Hukum Murphy, “Segala sesuatu tidak semudah yang Anda lihat; berlangsung lebih lama dari yang Anda duga; dan jika sesuatu itu ada kemungkinan untuk gagal, hal itu akan benar2 terjadi malah justeru pada saat yang terburuk.”
Saya sarankan, sebaiknya kita lebih memilih semboyan hidupnya Maxwell, “Segala sesuatu tidaklah sesulit yang kita lihat; lebih menguntungkan daripada yang Anda duga; dan jika ada kemungkinan berhasil, maka itu akan terjadi dan pada saat yang terbaik.”
Aspek terburuk dari pikiran negatif dari mereka yang menganut Hukum Murphy ialah bahwa hal itu membuat mereka tidak dapat melihat sesuatu dalam pandangan yang proporsional.
4. Pikiran negatif sangat mendukung kita untuk cepat berputus asa.
Seseorang pernah berkata seperti ini pada saya, “Bila kita tidak punya harapan di masa mendatang, maka tak mungkin ada kekuatan pada saat sekarang.” Ini berhubungan dengan sikap negatif yang sangat bisa membuat kita untuk putus asa. Pikiran2 negatif dapat merusak keyakinan juga memutuskan harapan. Ini memang berlangsung perlahan-lahan, namun percayalah, ini akan berlangsung terus-menerus dan lama-kelamaan akan menghapus semangat kita yang pada akhirnya akan menghentikan kita melanjutkan perjalanan menggapai tujuan kita.
5. Pikiran negatif mempersempit ruang gerak dan dan batas kemampuan kita
Menurut saya, orang tidaka akan selamanya mampu melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Orang2 yang berpikiran negatif selalumenganggap bahwa hal2 yang terburuk tidak hanya berasal dari dunia di sekitar mereka tapi juga dalam internal diri mereka. Mereka senantiasa dibayangi oleh bisikan2 “Pasti gagal, saya belum pernah melakukannya, tanpa …. Saya tidak akan berhasil, saya tak sanggup melakukannya, saya belum siap, itu bukan yang saya inginkan,” dan sebagainya, dan sebagainya.
Saya teringat kisah tentang Nabi Sulaiman, seorang pemimpin yang dikenal paling arif di dunia, bahkan tidak hanya sebatas pada manusia. Beliau pernah berujar, “Apa yang ada dalam benaknya, seseorang itulah dia.” Dengan kata lain, orang akan menjadi sesuatu yang ia pikirkan dan yakini. Ketika seseorang berpikiran negatif, tentu ia tidak akan mempunyai banyak harapan, dan saat itulah ia telah menutup pintu kemampuannya sendiri. Itu artinya, dia sendiri menjadi musuh besar bagi potensi yang sebenarnya ia miliki.
6. Pikiran negatif membuat kita sulit menikmati hidup.
Orang yang berpikiran negatif akan selalu merana dalam hidupnya. Mereka lalai saat ini, dan akan mendapat kekecewaan di masa yang akan datang. Mereka banyak menjadi ‘pengikut’ Hukum Chisolm, “Setiap saat se galanya berubah menjadi lebih baik, hanya saja kita tidak (mampu) menyadarinya.”
Saya pernah ikut sebuah seminar tentang potensi diri, hamper semua dari kami yang hadir mengatakan gelas yang diisi minuman dikatakan setengah kosong, bukanya setengah penuh. Kadang kita selalu memperkirakan-dan akhirnya memang memperoleh-yang terburuk dalam hidup kita. Ini mengingatkan saya pada cerita tentang seorang pendaki gunung pemula dan seorang penunjukjalan yang telah berpengalaman yang sedang melakukan pendakian puncak gunung yang diselimuti salju. Pagi-pagi sekali pendaki gunung ini tiba2 terjaga karena suara kerasnya gemertak yang menakutkan, bahkan ia menyangka bahwa hari kiamat mungkin telah tiba. Sementara si pemandu malah dengan santainya mengatakan, “Yang Engkau dengar itu hanya suara gemertak es akibat terkena sinar matahari. Itu bukanya pertanda kiamat tapi pertanda hari yang baru.”
Kalau dalam hidup ini kita menginginkan dapat meraih yang terbaik, maka manfaatkan sebaik-baiknya potensi yang ada pada diri kita, nikmatilah rangkaian perjalanan hidup ini, dan yang terpenting, kita harus senantiasa berpikiran positif.
