15 Oktober 2009

Seseorang yang ingin sukses, harus selalu berpikiran positif.

Ruang Dosen PDPT-MPKSENI UI, Akhir Agustus 2009. 14.00 WIB.

“Sikap adalah kualitas awal yang tampak pada seseorang yg sukses. Jika ia bersikap dan selalu berpikiran positif, serta menyukai tantangan dan siatuasi yg rumit, maka itu berarti ia telah meraih setengah dari kesuksesannya.” –Lowell Peacook–

“Pada setiap orang hanya terdapat sedikit perbedaan, namun yg sedikit itu bias menjadi sangat besar. Perbedaan yang sedikit itu adalah sikap, sedangkan perbedaan tersebut menjadi besar ketika sikap itu positif atau negative.” –Clement Stone–

Sikap Anda menentukan tingkat keberhasilan Anda
Seseorang –yg begitu sangat kukagumi kepiawai dan juga kegigihannya- pernah mengatakan kepadaku bahwa keberhasilan kita tergantung dari sikap kita sendiri. Lalu lanjutnya, perbedaan antara orang sukses dengan orang yang tidak sukses dalam hidupnya adalah : kehidupan orang sukses senantiasa diatur dan dibayangi dengan sikap positif, yakni pikiran2 tentang saat2 terbaiknya, rasa optimis yang tinggi serta pengalaman2 terbaiknya. Sementara kehidupan orang yang tidak sukses, dia senantiasa diatur dan dibayangi oleh rasa ragu serta kegagalan2nya di masa lampau, sifat pesimis serta pegalaman2 buruknya di masa lampau.

Banyak orang yang kadang mengatakan bahwa orang lainlah yang menjadikannya seperti yang sekarang ini. Bahkan kita, baik langsung ataupun secara tidak langsung bahwa keadaanlah yang mendikte kehidupan kita. Dan kadang kita akui bahwa sulit bagi kita mendikte perasaan2 yang demikian itu, kita terbiasa menyalahkan keadaan. Tapai pada kenyataannya, kita sendirilah yang harus menentukan cara kita memandang kehidupan ini. Saya teringat sebuah buku yang menceritakan tentang kesaksian seseorang yang lolos dari kekejian Nazi, Victor Frankl, dia mengatakan “ Kemerdekaan terakhir yang dimiliki seseorang ialah saat ia menentukan suatu sikap pada saat dihadapkan pada keadaan dan situasi tertentu.”

Hal ini senada dengan apa yang pernah dikatakan Maltbie D. Babcock, “Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi dan amat disayangkan adalah pendapat bahwa keberhasilan hanya bisa diperoleh berkat bantuan orang2 jenius, keajaiban atau oleh hal2 lain yg tidak ada pada diri kita sendiri.” Padahal, semua dari kita mampu meraih kesuksesan itu, hanya saja, tidak semua mau meraihnya, karena bias jadi kemampuan baru akan datang setelah kuatnya kemauan. Kita semua bias meraih kesuksesan dengan apa yang kita miliki, dengan sesuatu yang terdapat dalam diri kita. Dari itu, cara berpikir adalah dasar utama yang harus kita perbaiki untuk menempuh perjalanan meraih kesuksesan sebelum faktor2 lainnya.

Sikap kita sangat menentukan banyak hal dalam hidup kita :
1. Sikap kita terhadap kehidupanan menentukan sikap itu sendiri terhadap kita.
2. Sikap kita terhadap orang lain akan menentukan sikap mereka terhadap kita.
3. Sikap kita pada awala sebuah tugas/ pekerjaan akan menentukan sukses atau tidaknya pekerjaan tersebut.
4. Makin tinggi kedudukan orang yang Anda temui dalam suatu organisasi yang bermutu, makin baik pula sikapnya.

Tak heran memang, jika dikatakan kitalah yang juga menciptakan lingkungan kita, baik dari segi mental, emosional, fisik maupun spiritual, dengan sikap yang kita bina sendiri.
Namun begitu, dengan hanya bersikap positif tidak berarti kita pasti meraih sukses. Sikap ini memang akan memperbaiki kehidupan kita sehari-hari, namun hal ini tidak menjamin bahwa kita pasti mencapai semua yang kita kehendaki. Akan tetapi sebaliknya, jjika kita bersikap negative, sudah barang tentu kita tidak akan berhasil. Yang jelas, -seingat dan sepengetahuan saya- belum pernah saya melihat atau menemui ada seseorang yang bersikap buruk mampu mencapai kesuksesan yang langgeng.

Dampak negatif dari sikap negatif

Kita menjadi seperti sekarang ini karena kita selalu dikuasai oleh pikiran2 yang tentu selama ini ada dan berasarang dalam pikiran kita. Pikiran negatif muncul dalam diri seorang negatif yang terikat oleh situasi/ keadaan negatif yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Seseorang yang berpikiran negatif tak ubahnya seperti seseorang yang menelan telur. Ia merasa takut bergerak kemana-mana karena khawatir telur akan pecah, sementara ia juga takut untuk tetap duduk diam karena khawatir telur tersebut malah akan menetas.

Paling tidak, ada enam hal yang biasa ditimbulkan oleh pikiran yang negative yang dibiarkan berlarut-larut :
1. Pikiran negatif menimbulkan kebimbangan saat hendak membuat suatu keputusan penting.
Bila seseorang selalu menganggap bahwa apa yang ditemukan dalam hidupnya buruk, maka ini akan menjadi kebiasaan yang sangat sukar dihilangkan. Jadi ketika suatu saat ada kesempatan baik muncul, tentu orang semacam ini tak akan dapat melihat apalagi mengambilnya. Karena segala sesuatu yang dilihatnya selalu dianggapnya sebagai kesulitan dan juga rintangan yang tak ingin ditemuinya.
Pertanyaanya, bisakah kita membedakan antara peluang dan rintangan? Sebenarnya, perbedaanya utamanya terdapat pada sikap awal seseorang ketika menghadapinya. Abraham Lincoln-yang disebut2 sebagai presiden terbesar dalam sejarah Amerika- pernah mengatakan, “Kesuksesan bias kita peroleh jika saja kita mau, mau melalui rintangan demi rintangan tanpa mengendurkan semangat kita.”
Adalah benar memang, sebelum memutuskan sesuatu kita harus pula mempertimbangkan baik-buruknya. Namun demikian, ada yang lebih penting bahwa kita harus tetap berpikiran positif, karena ini akan mempermudah kita saat akan membuat keputusan penting.

2. Pikiran negatif sangat dapat menular
Dalam perbendaharaan peribahasa asing ada disebutkan “Birds of a feather flock together” (Burung yang sama bulunya, selalu bergerombol bersama). Sementara dalam peribaha kita juga dikatakan, “Rasan air ke air, rasan minyak ke minyak”. Saya sangat membenarkan peribahasa ini, bahkan kita lebih bias melihat hal yang lebih menyolok itu terdapat pada manusia dibandingkan pada hewan. Pada hewan, mereka bergerombol bersama karena memang mereka dari spesies yang sama, tapi pada manusia berasal dari asal yang berbeda tapi akan mudah berubahdan menjadi sama setelah seringnya berhubungan.
Saya pernah melihat pasangan suami-istri yang lama-kelamaan perilaku dan tindak tanduknya menjadi serupa. Bahkan kadang wajahnyapun menjadi terlihat begitu mirip, inilah hasil dari intensitas interaksi manusia dengan manusia lainya. Tentu menjadi sangat disayangkan bahwa yang kemudian yang ditularkan itu adalah sikap negatif tadi. Berkumpul dengan orang yang demikian sama halnya dengan bila kita terkena radiasi. Bila dosisnya sedikit dan dalam waktu yang relative singkat, kita masih akan selamat. Tapi bila dosisnya banyak dan berlangsung dalam waktu yang lama, itu akan membunuh kita.

3. Pikiran negatif lebih sering membuat kita bertindak membabi buta.
Sering kita melihat orang2 yang melakukan sesuatu secara berlebihan, sikap orang2 yang seperti ini seperti menganut Hukum Murphy, “Segala sesuatu tidak semudah yang Anda lihat; berlangsung lebih lama dari yang Anda duga; dan jika sesuatu itu ada kemungkinan untuk gagal, hal itu akan benar2 terjadi malah justeru pada saat yang terburuk.”
Saya sarankan, sebaiknya kita lebih memilih semboyan hidupnya Maxwell, “Segala sesuatu tidaklah sesulit yang kita lihat; lebih menguntungkan daripada yang Anda duga; dan jika ada kemungkinan berhasil, maka itu akan terjadi dan pada saat yang terbaik.”
Aspek terburuk dari pikiran negatif dari mereka yang menganut Hukum Murphy ialah bahwa hal itu membuat mereka tidak dapat melihat sesuatu dalam pandangan yang proporsional.

4. Pikiran negatif sangat mendukung kita untuk cepat berputus asa.
Seseorang pernah berkata seperti ini pada saya, “Bila kita tidak punya harapan di masa mendatang, maka tak mungkin ada kekuatan pada saat sekarang.” Ini berhubungan dengan sikap negatif yang sangat bisa membuat kita untuk putus asa. Pikiran2 negatif dapat merusak keyakinan juga memutuskan harapan. Ini memang berlangsung perlahan-lahan, namun percayalah, ini akan berlangsung terus-menerus dan lama-kelamaan akan menghapus semangat kita yang pada akhirnya akan menghentikan kita melanjutkan perjalanan menggapai tujuan kita.

5. Pikiran negatif mempersempit ruang gerak dan dan batas kemampuan kita
Menurut saya, orang tidaka akan selamanya mampu melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Orang2 yang berpikiran negatif selalumenganggap bahwa hal2 yang terburuk tidak hanya berasal dari dunia di sekitar mereka tapi juga dalam internal diri mereka. Mereka senantiasa dibayangi oleh bisikan2 “Pasti gagal, saya belum pernah melakukannya, tanpa …. Saya tidak akan berhasil, saya tak sanggup melakukannya, saya belum siap, itu bukan yang saya inginkan,” dan sebagainya, dan sebagainya.
Saya teringat kisah tentang Nabi Sulaiman, seorang pemimpin yang dikenal paling arif di dunia, bahkan tidak hanya sebatas pada manusia. Beliau pernah berujar, “Apa yang ada dalam benaknya, seseorang itulah dia.” Dengan kata lain, orang akan menjadi sesuatu yang ia pikirkan dan yakini. Ketika seseorang berpikiran negatif, tentu ia tidak akan mempunyai banyak harapan, dan saat itulah ia telah menutup pintu kemampuannya sendiri. Itu artinya, dia sendiri menjadi musuh besar bagi potensi yang sebenarnya ia miliki.

6. Pikiran negatif membuat kita sulit menikmati hidup.
Orang yang berpikiran negatif akan selalu merana dalam hidupnya. Mereka lalai saat ini, dan akan mendapat kekecewaan di masa yang akan datang. Mereka banyak menjadi ‘pengikut’ Hukum Chisolm, “Setiap saat se galanya berubah menjadi lebih baik, hanya saja kita tidak (mampu) menyadarinya.”
Saya pernah ikut sebuah seminar tentang potensi diri, hamper semua dari kami yang hadir mengatakan gelas yang diisi minuman dikatakan setengah kosong, bukanya setengah penuh. Kadang kita selalu memperkirakan-dan akhirnya memang memperoleh-yang terburuk dalam hidup kita. Ini mengingatkan saya pada cerita tentang seorang pendaki gunung pemula dan seorang penunjukjalan yang telah berpengalaman yang sedang melakukan pendakian puncak gunung yang diselimuti salju. Pagi-pagi sekali pendaki gunung ini tiba2 terjaga karena suara kerasnya gemertak yang menakutkan, bahkan ia menyangka bahwa hari kiamat mungkin telah tiba. Sementara si pemandu malah dengan santainya mengatakan, “Yang Engkau dengar itu hanya suara gemertak es akibat terkena sinar matahari. Itu bukanya pertanda kiamat tapi pertanda hari yang baru.”

Kalau dalam hidup ini kita menginginkan dapat meraih yang terbaik, maka manfaatkan sebaik-baiknya potensi yang ada pada diri kita, nikmatilah rangkaian perjalanan hidup ini, dan yang terpenting, kita harus senantiasa berpikiran positif.

Aku dan Kesedihanku

Edited And Posted in September 18, 2009.

Aku adalah kata ramah yang diucapkan berulang-ulang oleh suara alam ; Aku adalah bintang yang jatuh dari langit biru ke permadani hijau dan Aku adalah putera segala musim. Di waktu fajar aku menyatu dengan bayu untuk bersama-sama mengirimkan berita bahwa tibanya cahaya. Dan di waktu senja Aku bergabung bersama burung-burung yang akan mengumumkan telah pamitnya cahaya.

Aku adalah hadiah dari sang kekasih, Aku menjadi penyemarak pada saat yang membahagia. Dan kini, aku adalah hadiah terakhir dari kedua jiwa yang telah tiada…… kepada yang masih ada. Dan kini, Aku menjadi harapan terakhir dari yang masih ada.

Aku adalah sebagian dari sukacita dan juga sebagian dari dukacita. Akan tetapi, Aku selalu melihat keatas agar melihat cahaya selalu, melulu. Aku sering sekali mendengar suara burung-burung berkicau dengan lantang mengungkapkan segala kesedihannya. Aku sering sekali melihat di menanngis karena kesedihannya sehingga ikut bangkitlah kesedihannku. Seringkali tangisnya membuatku terjaga dan sering juga tangisku yang membuatnya terjaga. Sungguh, kadang kala dia mengeluhkan segala kesedihannya namun sayang aku tidak dapat memahami keluhan-keluhannya sama ketika aku mengeluh diapun tak dapat memahami keluhanku. Namun, ada satu bahasa yang sama yang menjadikan Aku sangat akrab dengannya, yakni bahasa kesedihan dan juga kerinduan.

Oh Kawan, betapa dekatnya jaraku dengan berbagai macam kesedihan, dan ketika aku panggil kesabaran dan kekuatan setelah hadirnya kesedihan dan dukacita maka kepedihan dan kerapuhanlah yang -dengan begitu cepat dan taatnya- lebih dulu menghampiri panggilanku sedangkan kesabaran dan kekuatan berjalan begitu lamban seolah enggan memenuhi panggilanku.

Jadikan Diri Kita Seberharga Berlian

Edited and Posted September 18, 2009.

Dalam hidup ini, saya punya sebuah prinsip yang saya coba terapkan dalam hidupku. Terkait dengan status sebagai seorang mahasiswa dan juga sebagai seorang pekerja. Sebenarnya, saya sendiri tidak tahu pasti mendapatkan prinsip hidup ini dari mana, namun bisa jadi dikarenakan pernah kenal seseorang yang kebetulan namanya berlian dan aku sangat menyukai dan juga mengaguminya. Mungkin bisa jadi dari sebuah nama itulah prinsip hidupku ini muncul. Aku ucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk “berlian” ku. Saya tidak pernah melihat hujan selain tentang seseorang yg sedemikian menyukai dan mengangguminya.

Inti dari prinsip ini adalah “Dimanapun kita berada maka jadikanlah diri kita menjadi sesuatu yang sangat berharga, yakni berlian”. Saya yakin, sekalipun tempat dimana kita ditempatkan, baik oleh tuhan ataupun oleh keadaan, yang terkadang tidak serta merta bisa kita terima maka kita tetap harus berupaya menjadikan diri kita tetap berharga layaknya sebutir berlian. Walaupun tempat kita ada sekarang ini seumpama kubangan lumpur yang kotor dan menjijikan, namun ketika kita bis menjadikan diri kita seindah dan seberharga berlian maka saya yakin kita akan tetap dicari, diminati juga dihargai oleh siapapun yang melihat kita. Bisa dipastikan ketika kita ditemukan oleh seseorang yang sekedar singgah atau melewati tempat dimana kita berada, kita akan dipungut dan dipindahkannya ketempat yang lebih indah dan mulia. Karena sebutir berlian tetaplah sebutir berlian, dimanapun dia ditempatkan dia tetap mulia dan berharga, begitulah kira-kira harapan penulis dengan prinsip hidup yang dipilihnya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana menerapkan prinsip tersebut dalam dunia mahasiswa dan juga dunia kerja yang nyata? Saya tegaskan jawabannya, gampang. Pertama coba biasakan kita untuk menyediakan waktu kita barang 5 menit saja setiap menjelang tidur, dan di saat itu, kita coba susun kembali apa-apa yg telah kita kerjakan hari ini di kampus atau ditempat kita bekerja seharian tadi, kemudian evaluasi diri kita, target apa yang sudah atau belum kita capai seharian tadi, kalau ada yang masih tidak atau belum memuaskan seperti apa yang menjadi harapan maka kenali dan analisalah dimana letak kekurangan ataupun kesalahan-kesalahannya. Setelah tahap evaluasi dan analisa selesai sekarang lanjutkan dengan tahapan perencanaan untuk kegiatan-kegiatan/ tindakan-tindakan apa yang besok yang akan dan mau kita lakukan. Termasuk didalamnya membuat target yang ingin dicapai juga dengan menyertakan parameter keberhasilannya, lakukan kegiatan ini terus menerus menjadi kebiasaan yang kemudian melekat erat dengan diri kita. Saya yakin, ketika ini bisa kita jalankan serta kita bisa konsisten menjaga kekontinyuaannya, Insya Allah, hidup kita kan lebih teratur dan lebih indah.

Sungguh waktu 5 menit yang seolah tak berarti itu, akan sama dengan 1.825 menit atau 30 jam dalam setahun. Waktu 5 menit tiap malam tersebut akan berakumulasi seiring dengan lamanya waktu kita belajar/ bekerja, hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Tak terasa, hal itu akan menjadi satu hal yg sangat berarti dalam prestasi kerja kita. Sedikit demi sedikit, waktu yg kita habiskan untuk membuat rencana itu mengkristal dan menjadikan diri kita berbeda dari lainnya. Lama – kelamaan Kristal ini akan menjadi lebih indah dengan kekonsistenan kita menjaga dan menjalankan prinsip berlian tersebut ditambah trik yang kedua yakni menjadi orang yang menyenagkan dan disenangi. Caranya juga gampang sekali, selain kita tidak boleh pilih-pilih dalam pergaulan, tua-muda, mahasiswa-pengajar, karyawan-atasan,laki-laki-
perempuan dan perbedaan-perbedaan lainnya. Mulailah dengan mengetahui nama-nama orang-orang yang ada disekitar kita berada kemudian menyapanya dan coba menawarkan bantuan sekiranya mereka sedang kesulitan dan juga kita mampu untuknya. Lama-kelamaan kita akan dikenal oleh semua kalangan yang ada disekitar kita dan menurut saya suatu kebanggaan yang tak ternilai harganya ketika kita dikenal dan senantiasa disapa ketika bertemu atau sekadar berpapasan dengan sapaan-sapaan yang hangat dan menentreamkan, ini menjadi semacam sugesti atau terapi atas segala kepenatan-kepenatan kita dalam belajar/ bekerja. Kalau dua tips ini bisa kita jalankan secara kontinyu dan juga konsisiten maka kemudian, orang-orang disekitar kita akan sadar ada sesuatu yang berharga disekitar mereka, sesuatu yang senantiasa disenangi dan diharapkan kehadirannya. Maka kemudian bisa dipastikan, seandainya tempat yang kita tempati sekarang kurang atau tidak baik-pun maka suatu saat kita akan dipungut dan dan dipindahkan ketempat lain, tentunya tempat yang lebih baik dan menyenagkan. Tapi sekali lagi untuk menjadi sesuatu yang disenagi dan selalu diharapkan itu kita harus terlebih dahulu membuat diri sendiri menjadi berharga baru kemudian mempersembahkannya buat orang-orang disekitar kita. Jadikan kita laksana sebutir berlian yang indah dan berharga, dimanapun ia berada. Insya Allah.

Nyanyian Hujan

Sekret MPKSeni PDPT UI
06 Oktober 2009. 15. 30 wib.

ku laksana larik-larik dan untaian benang perak yg diturunkan dari kemegahan langit. Kemudian dengan riangnya alam menyambutku, guna menyuburkan ladang-ladang dan lembah-lembahnya. Aku adalah butir-butir dan garis-garis indah mutiara-mutiara langit yang tercukil dari Mahkota Dewi Ishtar, Aphrodite, juga Venus yang diberikan dengan sukarela pada Putera dan Puteri Fajar untuk menyuburkan dan memperindah taman-taman alam.

Saat aku menangis sawah, ladang dan bukit-bukit tertawa; Kalau aku turun bunga-bunga dan pepohonan bergembira; Kalau aku menunduk, segala sesuatu bersukaria.
Sebagaimana saling mencintanya ladang dan awan, maka diantara mereka aku adalah kasih yang didamba. Saat aku hilangkan dahaga salah satunya, maka saat itu juga aku sembuhkan sakit satu lainnya. Inilah intisari mencinta. Kadang kelam dan suara guruh mengumumkan kedatanganku.

Aku sungguh suka pada kehidupan yang ada di bumi ini, yang berawal pada kaki musim yang mengamuk dan berakhir dibawah bentangan sayap-sayap kematian.
Aku timbul dari kedalaman jantung lautan dan bertiup bersama angin. Kalau kulihat ladang dalam kebutuhan, aku segera turun dan memeluk tetanaman, bebungaan serta menyejukan pepohonan dengan sejuta cara dan rasa.

Halus-halus kusentuh dan kurengkuh jendela-jendela dan pintu-pintu rumah kalian, dengan jemari ku yg dingin dan lembut, dan kuumumkan pada kalian sebuah lagu selamat datang dan kehidupan. Semua dari kalian bisa mendengar tetapi hanya sesiapa saja yang peka yang bisa mengerti.
Panas di udarlah yang melahirkanku, tapi pada gilirannya aku yang juga pada akhirnya mematikannya. Ibarat perempuan yg mengalahkan lelaki dengan tenaga yang sebelumnya direbutnya dari lelaki tersebut.

Aku adalah nafas lautan, airmata langit, tawa ladang dan juga percikan wajah alam. Begitu juga dengan cinta, sebuah nafas dari kedalaman laut kasih, airmata dan tawa dari langit dan ladang jiwa juga percikan kenangan yang tiada akhirnya.

Muhammad Akbar Rhamdhani, Doktor Metal Penggemar Rock

Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia
Jum'at, 9 Oktober 2009. Pkl. 09. 30 WIB.

Beberapa hari ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, bukan karena rajin ingin banyak membaca tapi lebih karena tidak mampu membeli buku-buku bahan ajar kuliah yang akhirnya mengharuskan saya ke perpustakaan, saya mendapatkan delapan dari sepuluh buku yang saya cari. Entah kenapa saya ingin kembali menggenapkannya menjadi sepuluh, maka saya pilih dua buku umum yang saya pikir sangat menarik dan inspiratif, isi dari salah satu buku itu ingin saya bagikan disini.

Boleh jadi, Muhammad Akbar Rhamdhani merupakan salah satu “ekspor” terbaik Indonesia ke Australia. Muda, cerdas juga dengan nama yg mulai mendunia, Akbar bukan hanya staf pengajar biasa di University of Queensland, Brisbane, Australia. Doktor metalurgi yang sempat jadi rebutan universitas-universitas top dunia itu sedang menggelar sejumlah riset yang sangat berguna bagi masa depan industri tambang serta pengolahan biji dan mineral.

Akbar adalah lulusan Departemen Material Science and Engineering (MSE), McMaster University, Kanada, sebuah tempat yang selama ini dikenal sebagai kiblat ilmu metalurgi dunia. Ketika mengambil program doktor, ia menemukan reaksi kinetis mineral logam, persoalan yang selama 20 tahun terakhir tidak pernah terjawab oleh ahli-ahli metalurgi dunia. Tak dapat dipungkiri bahwa “resep” Akbar telah member sumbangan besar bagi kemajuan industri besi dan baja dunia.
Selain mengajar di Queensland, Akbar juga diangkat sebagai redaktur ahli jurnal ilmiah metalurgi paling hebat diseluruh jagat, Metallurgical and Materials Transactions B Journal. Di dalam lembaga bergengsi itu, Akbar diminta menyeleksi kelayakan naskah yang masuk, tentu ini sebuah tugas yang menuntut pemahaman tentang perkembangan terkini ilmu metalurgi. Sementara kalau kita menilik usianya, anak muda kelahiran Bandung, 31 Juli 1979 ini mestinya belum matang benar. Namun otaknya yang brilian, juga tekad dan kemauannya yang begitu kuat membaja, telah membawa penggemar musik rock ini menjadi salah satu ilmuan metalurgi papan atas.
Perjalanan Akbar menjadi ahli metalurgi dan ilmu mineral tak ubahnya seperti sebuah mukjizat.

Cerita ini diawali tahun 2000 ketika MSE McMaster University menawarkan beasiswa kepada Akbar, Seorang Sarjana Mineral ITB yang baru saja lulus. Sebelumnya, kampus yang “angker” ini tidak pernah menerima lulusan ITB . Beruntunglah Akbar, begitu lulus sarjana ia “ditenteng” pembimbingnya, Profesor Geoffrey Brooks, seorang peneliti terpandang Australia yang mengajar di McMaster University. Berkat Brooks, Akbar mendapatkan beasiswa untuk program master.
Baru tiga bulan mengikuti kuliah, tiba-tiba Akbar dipanggil Prof. G. P. Johari, Graduate Advisor McMaster University. Johari adalah seorang yang ditugaskan menjaga kualitas mahasiswa di kampus tersebut, semacam panitia screening, ia punya wewenang penuh untuk meragukan bahkan memulangkan mahasiswa yang dianggap tak layak belajar di kampus itu. Bagi mahasiswa asing (non-Kanada), aturannya jelas, jika mau bertahan, nilai minimal harus B minus. Kurang dari itu, silahkan ¬out.

Saat itu Akbar termasuk mahasiswa yang diragukan, bukan karena nilainya jelek tapi karena status lususan/ pendidikannya yang dianggap tidak memenuhi syarat. Ada sebuah aturan di MSC McMaster : mahasiswa asing yang mengikuti kuliah tingkat master diwajibkan harus lulus master (S-2) terlebih dahulu di negara asalnya. Sementara Akbar hanya lulusan sarjana tingkat pertama (S-1). Prof. Johari mengaku McMaster “kecolongan” sehingga Akbar bisa nyelonong masuk di program master. Akhirnya ia meminta Akbar memberikan bukti yang lebih kuat yang bisa mempertahankannya agar bisa tetap belajar di kampus tersebut. Setelah dilakukan negosiasi, disepakatilah sebuah perjanjian : seluruh aktivitas dan perkembangan akademis Akbar diawasi dengan ketat. Jika rekornya fantastis ia boleh lanjut tapi jika tidak, dia harus mengemasi barangnya dan meninggalkan kampus tersebut. Akbar hanya bisa pasrah menerima opsi tersebut, walau ia merasa sebal juga karena dianggap lulusan yang diragukan. Untunglah, akhirnya ia membuktikan bahwa lulusan ITB memang tak boleh dianggap enteng. Nilai-nilai akademisnya nyaris sempurna, hampir semuanya A bulat kecuali ada satu nilai B. prestasi inlah yang kemudian malah membuat Akbar langsung meloncat ke level doktoral (S-3), tanpa harus menyelesaikan program masternya.
Berkat prestasi Akbar ini, almamater Akbar mulai dilirik “Dewa-Dewa” MSE McMaster. Boleh dikata,

Akbar adalah orang yang “babat alas” atau yang pertama kali membuka jalan bagi lulusan Bandung untuk memasuki McMaster University. Yang akhirnya, tahun 2002, Akbar-lah yang diminta Prof. Johari memberikan rekomendasi pada sejumlah aplikan dari ITB. Semenjak itu, sarjana ITB yang hendak mengambil program master di McMaster bisa langsung mengajukan tanpa harus mengambil gelar S-2 terlebih dahulu.

Berkat prestasinya yang berkilau, Akbar tak henti-hentinya diincar lembaga pemberi beasiswa. Empat tahun kulaih di Kanada, sedikitnya ia menerima beasiswa bergengsi, diantaranya Stelco-McMaster Graduate Fellowship yang hanya diberikan pada The Most Promising Research’s Student. Selain itu ia juga menerima Clifton SWherman Fellowship, sebuah beasiswa bagi mahasiswa doktoral dengan prestasi akademis yang paling baik. Bahkan yang lebih hebat, Akbar menjadi orang di luar Kanada (non-Canadian) pertama yang menerima D. A. R. Kay, sebuah penghargaan yang sangat prestisius.

Sementara di bidang metalurgi, Akbar memberikan sumbangan yang tak kalah hebat. Risetnya, “Reaction Kinetics and Dynamic Interfacial Phenomena in Liquid Metal-Slag Systems” ia berhasil menemukan data-data yang tak terpecahkan oleh para ahli dalam ilmu metalurgi selama dua dasawarsa terakhir. Yang kemudian hasil riset ini sangat membantu dalam pembuatan besi dan baja.
Pada November 2005, ketika usianya 26 tahun, Akbar lulus program doktoral. Sebenarnya, desertasinya sendiri sudah selesai awal 2004. Namun, Akbar melihat, daripada ia lulus buru-buru, lebih baik ia memanfaatkan waktu guna terus menambah ilmu dan mengejar gelar professor. Yang untuk itu, ia harus sering menulis jurnal, mengajar dan mengadakan seminar ilmiah. Sambil menunggu wisuda, Akbar nyambi ngajar di Fakultas Teknik McMaster University dan juga menyibukan diri menulis paper. Beberapa tulisannya dapat ditemukan dalam Jurnal Teknologi ITB dan sejumlah penerbitan asing.

Setelah lulus doctor, sebelum sempat pulang ke Indonesia, ia sudah lebih dulu “dibajak” oleh University of Tokyo Jepang, ia ditawari dana riset dua tahun dan menjadi peneliti pada universitas tersebut. Ia juga diincar oleh University of Toronto Kanada, untuk posisi sebagai asisten professor, serta beberapa tawaran-tawaran dari universitas-universitas ternama lainnya. Dari sekian banyak tawaran tersebut, Akbar akhirnya memilih “pinangan” University of Queensland, Brisbane, Australia sebagai pengajar dan peneliti. Pertimbangannya, ahli metalurgi Australia belum begitu banyak dan sebagai alumni Kanada ia akan lebih diperhitungkan.

“Kalau Akbar sudah tak mau menuruti apa kata orangtua, Ibu persilahkan Akbar untuk indekos saja, tinggal saja diluar rumah. Dengan begitu, Akbar bisa melakukan apa saja semaunya. Tidak akan ada lagi yang mengatur… … “
Itulah penggalan kata-kata yang selalu terngiang di telinga Akbar. Surat itu ditulis ibunya, Rohmah, yang merasa putus asa menghadapi kelakuan anakanya. Akbar sebagai anak sulungnya bukanya memberikan contoh yang baik untuk adik-adiknya, justeru sebaliknya, Akbar tumbuh sebagai pemuda yang bandel. Kerjaanya hanya main,kumpul-kumpul, ngeband, dan kelayaban tiap malam. Sekolahnya tidak terurus dan nilai-nilai sekolahnya selalu jeblok. Sejak masuk SMA Akbar hanya kenal dua dunia, musik dan pacaran. Sekolah memang jalan terus, tapi dilakoni dengan sambil lalu.

Bersama-sama teman-teman kelompoknya yang kompak mengusung musik cadas, tiap malam Akbar gentayangan darisatu tempat hiburan/ restoran satu ke tempat huiburan/ restoran lain untuk ngeband/ menawari pertunjukan live music. Bahkan kadang dibayar kadang tidak,tak jarang mereka juga hanya mendapatkan makan malam sebagai imbalannya karena yang paling penting bagi mereka, bisa unjuk gigi dan pamer kemampuan, itu sudah sangat membuat mereka senang.

Sibuk bermusik dan berpacaran, nilai sekolah Akbar di SMU 5 Bandung berantakan, jangankan rangking, naik kelas saja sudah untung. Walau sebenarnya, Akbar dikenal sebagai anak yang pintar, bahkan kecilnya, ia hanya perlu menghabiskan waktu 4 tahun saja untuk lulus SD. Membaca surat teguran ibunya, hati Akbar tersentak sadar, ia merasa terluka. Ia baru menyadari betapa besar kekecewaan ibunya. Ia menyesal, terpukul, sedih, pikirannya kacau, tak tahu mesti berbuat apa. Ia tak bisatidur, matanya sulit terpejam. Malam itu menjadi malam renungan terpanjangnya. Hasil dari perenungan itulah yang kemudian menyuruhnya menderetkan dosa-dosanya kepada ibu dan bapaknya. Semakin diingat semakin bersalah dan semakin sakitlah hatinya, yang kemudian hanya ada satu persoalan yang harus dijawabnya, bagaimana cara ia menebus segala kesalahan-kesalahnnya.

Akbar menjawabya, jam bermusiknya dikurangi, jam belajarnya ditambah. Bahkan ia memilih tinggal menjauhi jalanan kota Bandung agar konsentrasinya tak terganggu. Usahanyanyapun berbuah, ia berhasil naik kelas dan ia berhasil menembus ranking satu. Lulus SMA, 1995, Akbar masuk Teknik Material ITB mengambil jurusan Teknik Mesin. Sejak awal masuk kampus ia menggenjot belajaranya, Akbar berubah total, hampir seluruh waktunya dipakai untuk belajar. Selain sebagai mahasiswa termuda (umurnya 16 tahun ketika masuk) ia juga berhasil lulus dengan predikat cum laude, sebagai lulusan termuda dan terbaik. Setelah itu ia juga diterima sebagai dosen/ pengajar termuda dalam sejarah ITB (usianya 21 tahun) sekaligus menerima beasiswa pascasarjana, yang akhirnya posisi itu terpaksa dilepas karena ia harus landas ke Kanada.

Demikianlah, mukjizat ibunya yang terkias dalam sebuah surat teguran menjadi titik balik kehidupannya, Akbar sebagai seorang pemuda bergajulan berubah total menjadi seorang ilmuan. Menurutnya, keluarga merupakan sumber kekuatannya, terlebih doa ibunya. Merekalah yang mengantarkan Akbar seperti sekarang ini. Ia belajar kerja keras dari ayahnya, sementara dari ibunya, ia belajar memahami dan mendapatkan keutamaan iman agama. Ia ingat benar bagaimana orangtuanya rela menjual mobil keluarga untuk membiayai tiket pesawat Kanada-nya. Selain orangtuanya, yang m,enjadi orang paling dekatnya kini adalah istrinya, yang tak lain adalah bekas/ mantan pacarnya di SMA dulu, Nadya Octaviani. Ada kenangan unik yang takan terlupakan, pada tahun 2001, pasangan ini menikah. Namun, Akbar yang baru setahun di Kanada tak bisa pulang ke Indonesia dikarenakan ketiadaanya biaya. Akhirnya, di hari yang sakral dan agung itu, mempelai wanita duduk sendirian di pelaminan.

Sejak kuliah di ITB Akbar sudah mengubur impianya menjadi rocker, akan tetapi ketika berkuliah di Kanada, ia mendapatkan berkahnya, disana ternayata dia diberikan kesempatan yang tak pernah dibayangkannya, ia mengaku telah menonton live semua band idolanya, seperti ; Metallica, Deftones, Lim Bizkit, Linkin Park, Bad Religion, Collective Soul dan banyak lagi lainnya.

Sukses dengan nama yang mulai mendunia, tak membuat Akbar melupakan kampungnya. Dari seberang sana ia kerapkali menggagas kolaborasi penelitian antaruniversitas, Australia-Indonesia. Ia juga banyak membantu teman-teman di tanah air yang hendak penelitian/ riset. Meskipun tinggal di lain benua, ia mengaku bertekad akan melakukan apapun demi dunia penelitian di negaranya. Akbar menyimpan ambisi yang belum kesampaian, yakni kembali pulang dan mengajar di negerinya sendiri. Jika sampai hari ini ia masih tinggal di Australia, itu demi ilmu dan penelitian. “Ini hanya sementara,” Katanya pasti.

Disadur dari buku, Catatan Emas : Kisah 20 Pemuda Indonesia Yang Mengukir Sejarah.

Seorang Janda dan Anaknya

Malam mulai menyelimuti perkampungan di barat Sumatera dan suara gemuruh angin dan derasnya hujan meliputi desa-desa yang terkepung disekitar Lembah Agam, menjadikan sawah dan ladang laksana halaman luas yang sebagian porak-poranda akibat Alam yang mengamuk meninggalkan jejak-jejak kelakuannya. Di sepanjang jalan tak ubahnya seperti pekuburan dengan segala keheningan dan kesunyiannya, sementara derasnya hujan kian menelan malam.

Disebuah rumah terpencil dekat desa itu tinggal seorang perempuan yang sedang duduk disebuah kursi kayu sambil memintal kain, dan disisinya terduduk seorang anak kecil yang telah disisakan alam yang sebentar-sebentar melihat ibunya dengan pekerjaan ditangannya dan sebentar-sebentar melihat kearah luar, atas dan juga ke bawah.

Hujan yang deras diluar dan suara gemuruh dan guntur yang dahsyat searasa ikut mengguncang rumah itu si anak diterkam ketakutan. Dipeluknya ibunya untukmendapatkan perlindungan dan mengharap mendapatkan kasih sayangnya guna menghadapi Alam. Ibunya memeluk dan lalu menciumnya; kemudian dipangkunya anaknya dan berkatalah dia, “Jangan kuatir, Anaku, Karena alam hanya menunjukan bandingan antara kekuatannya yang hebat dengan kelemahan manusia. Ada Yang Maha Agung dibalik derasnya hujan dan awal yang menggumpal serta gemuruh angin yang menderu, dan Dia pula yang tahu apa-apa yang ada dibalik gempa dan apa-apa yang dibutuhkan bumi dan manusia, karena Dialah yang menciptakan keduaNya; dan dipandangNya mereka yang lemah dengan mata yang penuh kasih saying. Beranilah, Anaku. Sebab Alam senantiasa tersenyum dimusim panas dan tertawa dimusim hujan, walaupun sekarang dia memang sedang menangis; dan airmatanya membasahi sebuah kehidupan yang tersembunyi dibawah tanah yang beberapa waktu yang lalu sempat dikeluarkannya ke permukaan.

Tidurlah, Anaku sayang; Ayahmu dan juga saudara-saudaramu sedang memandangkita dari Alam lain sana, alam Keabadian. Beruntunglah karena derasnya hujan dan gemuruhnya guntur saat ini telah mendekatkan mereka pada kita. Tidurlah, Anaku. Karena selimut-selimut ketakutan dan kecemasan yang dibawa hujan ini membuat kita merasa semakin kedinginan ini dapat menghangatkan bibit-bibit (dalam tanah), dan apa-apa yang dikandungnya, juga gemuruh yang suaranya mirip deru peperangan ini nantinya akan menghasilkan bunga-bunga indah dan beraneka warna manakala tiba musim baru yang lebih membahagiakan.

Begitulah, Anaku. Sama halnya dengan manusia yang baru bisamenuai cinta kecuali setelah adanya perpisahan yang memilukan dan menyadarkannya. Sebuah kesedihan yang dalam, kegelisahan yang hebat juga kesabaran yang pahitlah yang akan menggantikannya. Tidurlah, Anaku, mimpi indah akan menemani jiwamu dan engkau tidak akan lagi merasa takut pada Alam yangmengerikan dan juga kelamnya malam yang menggigit dan menggelisahkanmu.”

Anak kecil itu memandang ibunya dengan mata yang penuh tanya namun terlihat lebih tenang, “Ibu, Aku mulai mengantuk, mataku mulai berat rasanya, tapi aku tidak mau tidur sebelum mengucapkan doa.”

Ibu itu tersenyum melihat wajahanaknya yangterlihat mirip malaikat itu, lama ia menatapnya dan pandangannya terasa kabur karena matanya yang mulai berkaca-kaca, lalu berkatalah dia, “Ibu akan selalu berdoa untkmu dan sekarang ikutilah kata-kata ini, Anaku. –Tuhan, kasihanilah kami yang sekarang sedang berdoa pada-Mu dan kasihanilah mereka yang juga miskin dan lindungilah mereka dari dingin dan derasnya hujan ini; hangatkan tubuh mereka yang terbungkus tipis dengan rengkuhan tangan-Mu yang dipenuhi kasih dan saying; awasilah para yatim, piatu, yang menggigil karena kedinginan dan menderita lapar karena kelemahan. Dengarlah doa kami, wahai Tuhan, suara para janda yang tak berdaya dan gemetar karena rasa khawatir akan (keselamatan dan kebaikan) anak-anak mereka. Bukalah, wahai Tuhan, hati manusia yang belum peka, agar mereka mengerti dan tersadar pada kesengsaran mereka yang lapar dan lemah. Jagalah, wahai Tuhan, burung-burung yang kecil dan lemah, pepohonan dan ladang-ladang dari amarah laut dan bumi; sebab kami tahu betapa Engkau dipenuhi oleh kasih, sayang dan juga cinta.”

Ketika tidur menaklukan jiwa anak itu, ibunya meletaknnya di atas alas seadanya dan diciumnya mata anaknya dengan bibir yang gemetar juga dengan mata yang tak lagi mampu menahan keluar bulir airmatanya, dengan cepat disekanya tetesan airmata itu dari pipi anaknya. Lantas ia kembali lagi duduk kembali melanjutkan memintal untuk membuatkan anaknya pakaian yang diharapkan akan bisa menghangatkannya.

Aku dan Bidadari Hutan

Seharian ini rasanya semakin ingin saja aku melarikan diri dari wajah maysarakat yang muram dan angkuh juga kebisingin kota yang begitu memusingkanku, ingin kutemui lagi lembah yang begitu luas juga hutan dengan air terjunnya yang indah dan menyejukan. Aku ikuti arus sungai kecil dengan bimbingan suara nyanyian burung-burung hingga sampailah aku di sbuah tempat yang begitu sepi yang oleh melengkungnya dahan-dahan pepohonan terhindarlah tanahnya dari terpaan matahari, untuk sekian lamanya aku berdiri disitu, dan jiwaku sangat terhibur rasanya. Sebuah jiwa yang haus karena ketidakpekaanya atau ketidakmampuannya lagi melihat sesuatu kecuali betapa mayanya kehidupan dan bukan betapa manisnya.

Aku sangat terbenam dalam pikiranku dan jiwaku sedang melayang hingga aku tak lagi menyadari hadirnya sesosok bidadari yang menutupi sebagian ketelanjangan tubuhnya dengan serangkaian dedaunan yang dianyam dengan tali dari akar pohon anggur juga dengan serangkaian bebungaan yang hanya berwarna merah yang mengitari rambutnya yang hitam keemasan, tiba-tiba tampil mempesona dihadapanku, mengejutkanku dan membuyarkan segala ketenanganku. Ketika diketahuinya aku terkejut disalaminya akuseraya berkata, “Jangan takut padaku, Aku adalah bidadari hutan ini.”

“Bagaimana keindahan seperti kau tertambat pada kehidupan di tempat ini? Tolong ceritakan kepdaku siapakah engkau sesungguhnya dan dari mana engkau dating?” tanyaku penasaran. Lalu duduklah dia dengan begitu luwesnya diatas rerumputan hijau dan diantara dedaunan yang terhampar berguguran di menyahutku, “Aku adalah lambing alam! Aku adalah Gadis Abadi yang dipuja oleh nenek moyangmu, dan banyak dari mereka yang membuatkanku tempat sebagai salah satu bentuk penghormatannya, juga nyanyian pepujian yang dilantunkannya setiap pagi fdan sore hari.” Aku merasa kebingungan karena aku lebih yakin bahwa yang dia maksudkan bukanlah nenek moyangku, aku tidak punya pengetahuan yang rinci tentang nenek moyangku tapi tetap saja aku yakin bahwa itu bukanlah neenk moyangku. Lalu aku beranikan diri berkata, “Sejujurnya aku tidak yakin dengan ceritamu terlebih tempat-tempat pemujaan yang kau maksudkan itu telah lama hancur kalaupun ada hanya tinggal serpihan dan bongkahan yang tak ada lagi nilainya, dan tulang belulang nenek moyangku pastinya sudah menjadi bagian dari tanah dimana dia dulu dikebumikan; tiada lagi yang tersisa untuk memperingati dewi mereka kecuali sedikit saja yang memilukan sertya beberapa halaman yang sudah tercampur adukan dalam beberapa buku sejarah.”
dia menjawab, “Bagi kami itu semua tidak ada artinya, sebab sebagian dari kehidupan para dewi hidup dalam kehidupan dan hati pemuja mereka serta mati bersama matinya mereka, sementara sebagian kehidupannya yang lain tetap hidup abadi tanpa ada akhirnya. Sepertihalnya hidupku yang dipelihara oleh dunia Keindahan dan Keabadian yang senantisa akan terlihat di manapun pandangan kau arahkan, dan Keindahan ialah Alam itu sendiri, tempat yang diatasnya kau berpijak; yang juga sebagai awal sukacita Sang Gembala diantara deretan lembah dan bebukitan, juga sukacita orang-orang di desa dengan hasil panen sawah dan ladangnya, dan kenikmatan-kenikmatan penghuni lain yang bermukim diantara gunung, laut dan daratan. Keindahan inilah yang sebenarnya mengangkat orang bijak berada di tahta kebenaran.”

Aku semakin merasa kebingungan lantas kembali kuberanikan diri bertanya, “Apakah Keindahan juga merupakan Kekuatan yang dahsyat?. Sebab dimana aku berpijak ada banyak sekali keindahan yang kemdian berubah menjadi kekuatan yang menghancurkan.” Maka dijawabnya, “Sesungguhnya kami melihat bahwa manusia takut pada segala sesuatu, (kau) bahkan takut pada dirimu sendiri. Kau takut terhadap surga, sumber kedamaian rohani; yang artinya juga kau takut pada Tuhannya dewi-dewi, bahkan akhirnya kau anggap bahwa Dia sedang murka yang anehnya, engkau juga tahu dan senantiasa memujanya dengan mengatakan bahwa tuhan dipenuhi oleh cinta, kasih dan sayang.”

Sesudah sesaat terdiam sejenak, bercampurnya kebingungan dan kesadaranku, aku meminta, “Bicaralah kepadaku tentang keindahan sebagaimana orang biasa mengartikan dan menafsirkannya.”

Dijawabnya, “Keindahan adalah sesuatu yang memikat jiwamu, serta sebagai sesuatu yang lebih suka memberi daripada menerima. Jika kau bertemu Keindahan, kau akan merasakan betapa tangan-tangan dalam batinmu akan terulur untuk menariknya masuk kedalam ranah hatimu lalu meneruskannya ke palung jiwamu. Itulah keindahan, sebuah paduan yang sama timbangannya antara sukacita dan dukacita; antara tawa dan air mata. Ia adalah apa yang tak tampak namun kau merasakannya, juga sebagai sesuatu yang samar namun kau dapat meyakininya, juga sebagai sesuatu yang begitu rinci namun juga kau dapat mengerti. Ia adalah Yang Paling Suci dari segala Kesucian yang berawal dari dirimu sendiri dan berakhir jauh dari segala khayalan duniawi.”

Melihatku semakin kebingungan kemudian bidadari itu mendekatiku lalu meletakan kedua tangannya yang begitu harum di kedua mataku. Sesaat kemudian aku buka dan tak kuliahtnya lagi dia dihadapanku, dia menghilang dan kembali seorang dirilah aku.

Sewaktu aku kembali ke kota, yang keributannya kembali menjengkelkan aku, aku teringat dan aku ulang kata-katanya.
“Keindahan ialah sesuatu yang memikat jiwamu, serta sesuatu yang suka memberi dan bukannya menerima…”